Berita Internasional
Beranda / Berita / Berita Internasional / Ketegangan Donald Trump dan Paus Leo XIV Memanas, Dipicu Isu Iran dan Kebijakan AS

Ketegangan Donald Trump dan Paus Leo XIV Memanas, Dipicu Isu Iran dan Kebijakan AS

WASHINGTON DC, politikarakyat.id – Ketegangan tak biasa terjadi antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menyusul perbedaan tajam pandangan terkait perang Iran.

Perselisihan ini mencuat ke publik setelah Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo, yang sebelumnya mengecam kebijakan pemerintahannya—mulai dari penanganan imigrasi, intervensi di Venezuela, hingga konflik dengan Iran.

Konflik terbuka antara dua tokoh besar ini memicu kekhawatiran politik. Trump dinilai berpotensi kehilangan dukungan dari kelompok kanan religius, terutama menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026.

Hingga kini, ketegangan belum mereda. Pada Senin (13/4/2026), Trump secara tegas menyatakan dirinya tidak sependapat dengan Paus.
“Tidak perlu minta maaf. Dia yang salah,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Sehari sebelumnya, Trump juga melontarkan serangan melalui media sosial, termasuk mengunggah gambar berbasis kecerdasan buatan yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus Kristus. Unggahan tersebut kemudian dihapus, dan Trump membantah interpretasi publik, dengan menyebut gambar itu menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter.

Gencatan Senjata Hampir Usai, AS Kebut Negosiasi Damai dengan Iran

Berawal dari momen Paskah

Perseteruan ini bermula dari unggahan Trump saat Hari Paskah, yang berisi peringatan bernada keras kepada Iran terkait Selat Hormuz. Pernyataan tersebut dianggap kontroversial karena disampaikan di salah satu momen paling sakral bagi umat Kristiani.

Situasi semakin memanas ketika Trump kembali menyerang Paus pada Minggu (12/4/2026), bertepatan dengan kebuntuan perundingan dengan Iran.

Di sisi lain, Paus Leo XIV menunjukkan sikap tegas. Dalam perjalanan menuju Afrika, ia menyatakan tidak gentar menghadapi tekanan dari pemerintahan Trump. Ia menegaskan akan tetap menyuarakan nilai-nilai Injil, termasuk kritik terhadap ancaman perang dan kebijakan deportasi massal yang dinilainya tidak manusiawi.

Sebelumnya, Paus juga mengecam keras pernyataan Trump yang dianggap mengancam kehancuran peradaban di Iran.

Dampak politik mulai terasa

Dalam beberapa tahun terakhir, Trump memang semakin sering mengaitkan narasi keagamaan dengan politiknya. Ia bahkan pernah menyatakan dirinya “diselamatkan oleh Tuhan” setelah selamat dari percobaan pembunuhan saat kampanye 2024.

Trump Sepakati Gencatan Senjata 2 Pekan dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali

Namun, konflik dengan Paus berpotensi menjadi bumerang. Hubungan Trump dengan basis pemilih Kristen konservatif—yang selama ini menjadi salah satu pilar kekuatannya—bisa terganggu.

Reaksi keras pun muncul dari kalangan Katolik Amerika. Uskup Agung Paul Coakley menyatakan kekecewaannya atas sikap Trump yang dinilai meremehkan pemimpin Gereja.

Meski begitu, tidak semua tokoh di lingkaran Trump mengambil jarak. Wakil Presiden JD Vance justru tampil membela presiden.

Sementara itu, kritik juga datang dari tokoh konservatif seperti Marjorie Taylor Greene dan komentator Riley Gaines, yang menyoroti unggahan kontroversial Trump di media sosial.

Ketegangan ini dinilai dapat memperlemah soliditas Partai Republik, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran ekonomi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Iran.

Israel Hancurkan 17 Kamera Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement
Politikarakyat.id